BANGKA โ Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Nibung, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tidak hanya menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam mempertahankan tradisi dan budaya lokal.
Salah satu tradisi yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat Desa Nibung adalah ngilok dodol atau ngirok dodol, yaitu kegiatan membuat dodol secara bersama-sama sebagai bagian dari persiapan menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tradisi tersebut dilaksanakan secara gotong royong dan menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga kebersamaan antarwarga.
Tradisi Turun-Temurun
Tokoh Adat Desa Nibung, Mahmudin, mengatakan bahwa tradisi ngilok dodol telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
โNgilok dodol ini bukan hanya kegiatan membuat makanan, tetapi juga bentuk gotong royong dan kebersamaan masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi,โ kata Mahmudin.
Menurut Mahmudin, tradisi tersebut pada masa lalu tidak hanya dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Masyarakat juga melaksanakannya pada saat panen raya padi serta dalam sejumlah ritual adat.
โTradisi ini sudah dilakukan turun-temurun sejak zaman dahulu. Dulu berkaitan dengan panen raya dan ritual adat, tetapi sekarang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali,โ ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan ngilok dodol di Desa Nibung kini dilakukan sekitar tiga tahun sekali. Meskipun frekuensinya berubah, masyarakat tetap mempertahankan nilai kebersamaan dan gotong royong yang terkandung di dalam tradisi tersebut.
Proses Pembuatan Dodol Dilakukan Bersama
Pembuatan dodol dilakukan melalui sejumlah tahapan yang melibatkan masyarakat secara bersama-sama.
Prosesnya diawali dengan mengupas dan memarut kelapa. Kelapa yang telah diparut kemudian diperas untuk menghasilkan santan. Santan tersebut dimasak menggunakan kuali berukuran besar.
Sementara itu, warga menyiapkan bahan-bahan lain, seperti gula aren, gula pasir, dan beras ketan yang telah dihaluskan.
Setelah seluruh bahan dicampurkan, adonan harus terus diaduk selama berjam-jam hingga mengental dan berubah menjadi dodol. Pengadukan dilakukan secara bergantian oleh warga.
Proses yang membutuhkan waktu dan tenaga tersebut justru menjadi bagian penting dari tradisi. Warga dapat berkumpul, saling membantu, berbincang, serta mempererat hubungan sosial antarsesama.
Setiap keluarga biasanya menyiapkan sekitar 10 kilogram dodol atau lebih. Setelah matang, dodol kemudian dikemas dan dibagikan kepada tamu yang datang berkunjung saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bukan Sekadar Hidangan
Bagi masyarakat Desa Nibung, ngilok dodol bukan sekadar kegiatan memasak atau membuat makanan.
Tradisi tersebut mengandung nilai sosial yang kuat. Proses pembuatan dodol secara bersama-sama mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, silaturahmi, dan berbagi.
Dodol yang dihasilkan juga tidak hanya dikonsumsi oleh keluarga yang membuatnya. Makanan tersebut dibagikan kepada tamu dan masyarakat yang datang dalam rangka memperingati Maulid Nabi.
Dengan demikian, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Desa Nibung menjaga hubungan sosial sekaligus mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Maulid Nabi Menjadi Momentum Silaturahmi
Selain menyiapkan dodol, masyarakat Desa Nibung juga mempersiapkan berbagai hidangan khas untuk menyambut tamu yang datang ke rumah masing-masing.
Mahmudin mengatakan bahwa setiap rumah biasanya tidak hanya menyediakan dodol sebagai hidangan, tetapi juga berbagai masakan khas lainnya.
โBiasanya setiap rumah tidak hanya menyiapkan dodol sebagai menu utama. Beragam masakan khas juga tersedia di meja tamu untuk menyambut masyarakat dan tamu yang datang,โ tambah Mahmudin.
Kebiasaan tersebut membuat suasana Maulid Nabi di Desa Nibung tidak hanya berlangsung sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum masyarakat untuk saling berkunjung dan mempererat silaturahmi.
Menjaga Warisan Budaya Desa Nibung
Tradisi ngilok dodol menjadi salah satu gambaran bahwa budaya gotong royong masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Desa Nibung.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
Nilai yang diwariskan bukan hanya mengenai cara membuat dodol, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat bekerja bersama, saling membantu, menghormati tamu, dan berbagi dengan sesama.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW akhirnya menjadi ruang pertemuan antara nilai keagamaan dan budaya lokal. Melalui tradisi ngilok dodol, masyarakat Desa Nibung tidak hanya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga merawat warisan leluhur yang mengajarkan pentingnya kebersamaan.
Pada 30 Agustus 2026, masyarakat Desa Nibung dijadwalkan melaksanakan peringatan Maulid Nabi dengan suasana yang lebih besar. Berbagai hidangan akan disiapkan oleh masyarakat untuk menyambut tamu dan warga yang datang.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa sebuah perayaan tidak hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang nilai yang diwariskan. Di Desa Nibung, semangat gotong royong terus hidup melalui kegiatan sederhana: berkumpul, mengolah bahan, mengaduk dodol, menyambut tamu, dan berbagi makanan.
Ngilok dodol menjadi bagian dari cerita masyarakat Desa Nibung dalam menjaga tradisi, mempererat silaturahmi, dan merawat identitas budaya lokal.
Sumber Berita
Bangka TV News, โTradisi Ngilok Dodol di Nibung, Warisan Gotong Royong Sambut Maulid Nabi Muhammad SAWโ, diterbitkan 25 Agustus 2026. Berita tersebut menjadi sumber untuk keterangan mengenai Mahmudin sebagai Tokoh Adat Desa Nibung, tradisi ngilok dodol, sejarah pelaksanaannya, serta rencana peringatan Maulid Nabi pada 30 Agustus 2026.
