Pendidikan Karakter Usia Dini

By SMAN 2 Puding Besar 01 Mei 2020, 01:22:27 WIB Pendidikan
Pendidikan Karakter Usia Dini

Pengertian pendidikan karakter

karakter dapat diartikan sebagai cara pola berpikir dan berperilaku seseorang yang merupakan mencerminkan dirinya baik secara individu maupun secara bersama sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat dan bernegara. Untuk lebih singkatnya karakter merupakan pembawaaan seseorang yang didapatkan sejak kecil. Karakter sangat erat hubungannnya dengan nilai nilai agama, kejiwaan, akhlak dan budi pekerti seseorang yang membedakan terhadap yang lainnya. Sejalan dengan perkembangan jaman juga di ikuti dengan pergeseran moral sebagai karakter/ budaya negara timur, baik yang datang dari negara kita sendiri maupun budaya yang dibawa dari negara asing. Merujuk dari hal diatas maka saya mengangkat tema pendidikan berkarakter anak usia dini sebagaai pembekalan diri.

Pentingnya pendidikan karakter pada anak usia dini

Bila diperhatikan saat sekarang tingginya tingkat kriminalitas, seperti maraknya penggunaan narkoba, kekerasan terjadi dimana mana, dan yang paling parah lagi rasa hormat terhadap orang lebuh tua semakin menurun terlepas dari pergaulan serta pendidikan yang ditanamkan pada dirinya di usia dini. Di usia 6 bulan sampai dengan 1 tahun pertama merupakan usia yang paling berpengaruh dalam perkembangan anak hingga tumbuh remaja. Usia 6 bulan sampai dengan satu tahun merupakan usia emas (golden age) pada usia ini sangat menentukan ketika anak tumbuh dewasa dimana bila salah dalam mendidik pada usia tersebut kemungkinan besar anak tersebut juga salah, sebaiknya  diberikan pengenalan terhadap pendidikan karakter pada usia dini

Orang tua dalam keluarga adalah merupakan hal yang berpengaruh dalam berhasil atau tidaknya dalam mendidik karakter seorang anak, baik secara fsikis seperti pemenuhan kebutuhan akan makan dan minum juga kebutuhan kasih sayang serta rasa aman dari gangguan apapun terhadap anak. Anak usia dini sangat sensitif terhadap apa yang ia lihat, karena anak lebih sering bersama orang tua tentu akan meniru apa yang dilakukan pihak orang tua. Bila orang tua dalam mendidik atau berperilaku secara keras, lembut, demokrasi, otoriter, dan lain sebagainya kemungkinan besar anak tersebut akan merekam- artikel tentang pendidikan.

Nilai yang ditanamkan dalam mendidik anak di usia dini

Dalam membangun karekter anak kita harus menanamkan nilai nilai posistive seperti:

  1. Taat kepada agama/religius
  2. Jujur baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan, jangan sesekali memperlihatkan sikap curang terhadap anak karena dia akan merekam dan akan melakukan hal yang sama
  3. Bertanggung jawab dalam segala hal yang ia lakukan
  4. Rasa percaya diri- rasa percaya diri perlu ditanamkan terhadap anak agar saat ia remaja tidak suka minder yang membuat ia tertinggal dengan sebayanya.
  5. Mandiri
  6. Demokratis
  7. Peduli terhadap sesama.
  8. Hormat dan sopan kepada orang tua serta orang lain yang lebih tua
  9. Disiplin disegala hal
  10. Pekerja keras dan lain sebagainya yang merupakan sikap positive.
Penulis Kurniasih Budi | EditorKurniasih Budi KOMPAS.com - Kurikulum 2013 menempatkan pendidikan karakter sebagai unsur pendidikan yang utama. Hal tersebut dapat dilihat dalam kompetensi inti yang memuat sikap religius dan sikap sosial pada semua mata pelajaran. “Semua muatan pelajaran bermuara ke arah sikap religius dan sikap sosial yang baik. Sikap-sikap ini bukan sekedar menjadikan religiusitas dan sosial menjadi pengetahuan,” kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Anas M. Adam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/11/2017). Lebih dari itu, ia melanjutkan, terjadi transformasi nilai-nilai religius dan sosial yang dikembangkan di sekolah. Sikap religius dan sosial bukan sebagai discursive knowledge tetapi menjadi practical knowledge. Baca: Guru Jadi Teladan dalam Membangun Pendidikan Karakter Berbagai pengamalan anak yang dijadikan sebagai habituasi akan terbentuk menjadi karakter. “Artinya sikap religius dan sikap sosial menjadi habituasi anak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai-nilai itu diinternalisasikan pada pribadi peserta didik yang pada akhirnya menjadi jati diri anak,” katanya. Anas mengatakan, keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah sangat tergantung pada peran guru-guru di sekolah. Selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, para guru juga harus mengisinya dengan karakter apa yang sesuai dengan tema atau topik pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran. Pendidikan karakter bangsa telah menjadi kepedulian pemerintah dan menjadi salah satu program strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) periode 2015-2019. Baca: Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Keteladanan Guru Berbagai upaya untuk mengimplementasikan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa telah dilakukan. Salah satunya, Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa bagi Guru Pendidikan Menengah yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud. Lomba tersebut dilaksanakan pada 23-26 November 2017 di Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Nasional 2017. Puncak acara Hari Guru yang ditetapkan Sabtu (25/11/2017) diperingati dengan upacara para guru dan tenaga kependidikan dengan inspektur upacara Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Adapun tema Hari Guru Nasional 2017 adalah "Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru."

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Karakter Jadi Fokus Utama Pendidikan", https://edukasi.kompas.com/read/2017/11/23/11160031/pendidikan-karakter-jadi-fokus-utama-pendidikan.
Penulis : Kurniasih Budi
Penulis Kurniasih Budi | EditorKurniasih Budi KOMPAS.com - Kurikulum 2013 menempatkan pendidikan karakter sebagai unsur pendidikan yang utama. Hal tersebut dapat dilihat dalam kompetensi inti yang memuat sikap religius dan sikap sosial pada semua mata pelajaran. “Semua muatan pelajaran bermuara ke arah sikap religius dan sikap sosial yang baik. Sikap-sikap ini bukan sekedar menjadikan religiusitas dan sosial menjadi pengetahuan,” kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Anas M. Adam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/11/2017). Lebih dari itu, ia melanjutkan, terjadi transformasi nilai-nilai religius dan sosial yang dikembangkan di sekolah. Sikap religius dan sosial bukan sebagai discursive knowledge tetapi menjadi practical knowledge. Baca: Guru Jadi Teladan dalam Membangun Pendidikan Karakter Berbagai pengamalan anak yang dijadikan sebagai habituasi akan terbentuk menjadi karakter. “Artinya sikap religius dan sikap sosial menjadi habituasi anak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai-nilai itu diinternalisasikan pada pribadi peserta didik yang pada akhirnya menjadi jati diri anak,” katanya. Anas mengatakan, keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah sangat tergantung pada peran guru-guru di sekolah. Selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, para guru juga harus mengisinya dengan karakter apa yang sesuai dengan tema atau topik pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran. Pendidikan karakter bangsa telah menjadi kepedulian pemerintah dan menjadi salah satu program strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) periode 2015-2019. Baca: Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Keteladanan Guru Berbagai upaya untuk mengimplementasikan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa telah dilakukan. Salah satunya, Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa bagi Guru Pendidikan Menengah yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud. Lomba tersebut dilaksanakan pada 23-26 November 2017 di Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Nasional 2017. Puncak acara Hari Guru yang ditetapkan Sabtu (25/11/2017) diperingati dengan upacara para guru dan tenaga kependidikan dengan inspektur upacara Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Adapun tema Hari Guru Nasional 2017 adalah "Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru."

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Karakter Jadi Fokus Utama Pendidikan", https://edukasi.kompas.com/read/2017/11/23/11160031/pendidikan-karakter-jadi-fokus-utama-pendidikan.
Penulis : Kurniasih Budi
Penulis Kurniasih Budi | EditorKurniasih Budi KOMPAS.com - Kurikulum 2013 menempatkan pendidikan karakter sebagai unsur pendidikan yang utama. Hal tersebut dapat dilihat dalam kompetensi inti yang memuat sikap religius dan sikap sosial pada semua mata pelajaran. “Semua muatan pelajaran bermuara ke arah sikap religius dan sikap sosial yang baik. Sikap-sikap ini bukan sekedar menjadikan religiusitas dan sosial menjadi pengetahuan,” kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Anas M. Adam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/11/2017). Lebih dari itu, ia melanjutkan, terjadi transformasi nilai-nilai religius dan sosial yang dikembangkan di sekolah. Sikap religius dan sosial bukan sebagai discursive knowledge tetapi menjadi practical knowledge. Baca: Guru Jadi Teladan dalam Membangun Pendidikan Karakter Berbagai pengamalan anak yang dijadikan sebagai habituasi akan terbentuk menjadi karakter. “Artinya sikap religius dan sikap sosial menjadi habituasi anak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai-nilai itu diinternalisasikan pada pribadi peserta didik yang pada akhirnya menjadi jati diri anak,” katanya. Anas mengatakan, keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah sangat tergantung pada peran guru-guru di sekolah. Selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, para guru juga harus mengisinya dengan karakter apa yang sesuai dengan tema atau topik pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran. Pendidikan karakter bangsa telah menjadi kepedulian pemerintah dan menjadi salah satu program strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) periode 2015-2019. Baca: Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Keteladanan Guru Berbagai upaya untuk mengimplementasikan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa telah dilakukan. Salah satunya, Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa bagi Guru Pendidikan Menengah yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud. Lomba tersebut dilaksanakan pada 23-26 November 2017 di Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Nasional 2017. Puncak acara Hari Guru yang ditetapkan Sabtu (25/11/2017) diperingati dengan upacara para guru dan tenaga kependidikan dengan inspektur upacara Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Adapun tema Hari Guru Nasional 2017 adalah "Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru."

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Karakter Jadi Fokus Utama Pendidikan", https://edukasi.kompas.com/read/2017/11/23/11160031/pendidikan-karakter-jadi-fokus-utama-pendidikan.
Penulis : Kurniasih Budi
Penulis Kurniasih Budi | EditorKurniasih Budi KOMPAS.com - Kurikulum 2013 menempatkan pendidikan karakter sebagai unsur pendidikan yang utama. Hal tersebut dapat dilihat dalam kompetensi inti yang memuat sikap religius dan sikap sosial pada semua mata pelajaran. “Semua muatan pelajaran bermuara ke arah sikap religius dan sikap sosial yang baik. Sikap-sikap ini bukan sekedar menjadikan religiusitas dan sosial menjadi pengetahuan,” kata Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Anas M. Adam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (23/11/2017). Lebih dari itu, ia melanjutkan, terjadi transformasi nilai-nilai religius dan sosial yang dikembangkan di sekolah. Sikap religius dan sosial bukan sebagai discursive knowledge tetapi menjadi practical knowledge. Baca: Guru Jadi Teladan dalam Membangun Pendidikan Karakter Berbagai pengamalan anak yang dijadikan sebagai habituasi akan terbentuk menjadi karakter. “Artinya sikap religius dan sikap sosial menjadi habituasi anak dalam kehidupan nyata sehari-hari. Nilai-nilai itu diinternalisasikan pada pribadi peserta didik yang pada akhirnya menjadi jati diri anak,” katanya. Anas mengatakan, keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah sangat tergantung pada peran guru-guru di sekolah. Selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, para guru juga harus mengisinya dengan karakter apa yang sesuai dengan tema atau topik pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran. Pendidikan karakter bangsa telah menjadi kepedulian pemerintah dan menjadi salah satu program strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) periode 2015-2019. Baca: Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Keteladanan Guru Berbagai upaya untuk mengimplementasikan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa telah dilakukan. Salah satunya, Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa bagi Guru Pendidikan Menengah yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud. Lomba tersebut dilaksanakan pada 23-26 November 2017 di Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Nasional 2017. Puncak acara Hari Guru yang ditetapkan Sabtu (25/11/2017) diperingati dengan upacara para guru dan tenaga kependidikan dengan inspektur upacara Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Adapun tema Hari Guru Nasional 2017 adalah "Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru."

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Karakter Jadi Fokus Utama Pendidikan", https://edukasi.kompas.com/read/2017/11/23/11160031/pendidikan-karakter-jadi-fokus-utama-pendidikan.
Penulis : Kurniasih Budi



Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment